Rabu, 06 Mei 2009

Kunjungan ke Panti Wreda


Minggu pagi, 26 April, cuaca begitu cerah. Hari ini, kami, Tim Kerja Pendampingan Iman Anak (PIA) dan Tim Kerja Lektor akan mengadakan kunjungan ke Panti Wreda Rindang Asih I yang beralamat di Jl. Rindang Asih No. 14, Dliwang, Ungaran. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan rasa berbagi, kebersamaan serta kekeluargaan antara pendamping anak, anak yang didampingi, lektor dengan para penghuni panti.

Setelah berdoa bersama dipimpin oleh Romo Sugiyana, Pr dan mendapat berkat agar selamat dalam perjalanan, kami berangkat dengan menggunakan 1 bus besar, dan 2 mobil. Jumlah yang ikut serta dalam kegiatan ini sebanyak 67 orang.

Setibanya di Panti Wreda, kami disambut dengan penuh kehangatan dan kegembiraan oleh para penghuni panti. Mereka berjumlah 31 orang yang rata-rata berusia 67 tahun dan semuanya nenek-nenek. Untuk kamar dibagi menjadi 3 ruang yaitu ruang A.VIP, ruang B kelas II, dan ruang C bangsal. Pengurus panti berjumlah 15 orang dan masing-masing dibagi dalam shif kerja. “Mereka dititipkan karena anak-anak atau keluarga mereka bekerja di luar kota. Setiap sebulan sekali mereka memberi uang sebagai ungkapan terima kasih karena telah merawat ibu dan nenek mereka meski jumlahnya tidak seberapa. Jika ada yang meninggal maka jenasahnya dipulangkan kembali kepada keluarganya,” jelas Ibu Santi.

Dengan dipandu mbak Herlin dan Fifi yang bertugas sebagai MC, acara demi acara berlangsung dengan penuh semangat dan keceriaan. Anak-anak PIA, perwakilan dari lektor maupun para nenek, bergantian mengisi atraksi, baik dengan menari, menyanyi maupun bercerita. Ternyata tubuh yang renta bukan halangan bagi mereka untuk ikut berjoget. Mereka justru merasa senang karena mendapat kunjungan seperti ini. Di akhir acara, kami menyerahkan paket bingkisan berupa kipas bambu, handuk kecil, sabun mandi dan minyak kayu putih kepada penghuni panti. Selain itu, kami juga menyumbangkan lampu emergency, gula pasir, selimut, pengharum pakaian, sabun cuci, pampers orangtua, kecap, minyak goreng, sabun mandi, pasta gigi, susu serta beberapa roti.

Setelah saling mengucapkan terima kasih dan bersalam-salaman, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Taman Unyil untuk makan siang sambil melepas lelah. Setelah perut terisi dan lelah menghilang, kami segera bergegas untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Semarang.
(rachel)

Jumat, 17 April 2009

Egg Adventure yang Gagal


Minggu pagi, 12 April, udara terasa sejuk dan cuaca begitu cerah. Di taman, di samping gereja telah dipersiapkan pernak-pernik untuk perayaan Paskah yang akan dilaksanakan seusai misa. Ada rangkaian benang yang dijalin menjadi satu, menjadi background tulisan ’Egg Adventure’. Ada tangga yang berdiri tegak di samping pohon pinus. Tenda kemah yang terpasang di dalam taman, tali-temali dan rangkaian tema Paskah ’KEBANGKITAN KRISTUS MENINGKATKAN IMAN ANAK dan REMAJA’, yang tergantung indah di antara pepohonan. Semuanya tampak begitu semarak.

Sementara di tempat lain, Romo, Prodiakon, Putra Altar dan para petugas Misa Paskah Keluarga tengah bersiap-siap mengikuti perarakan menuju ke dalam gereja. Tepat pukul 08.30 misa dimulai.

Petugas koor yang terdiri dari anak-anak dengan didampingi beberapa pendamping, tampak penuh semangat menyanyikan lagu-lagu selama misa berlangsung. Kegembiraan semakin terasa saat visualisasi Kebangkitan Kristus. Tanpa dikomando, anak-anak yang sebelumnya berada di bangku umat, beramai-ramai maju ke depan. Visualisasi kali ini dibawakan oleh anak-anak SD Bernardus dengan sangat ’apik’. Ada tari-tarian, gerak dan dialog yang sudah didubbing, dengan balutan kostum warna-warni yang begitu indah.

Saat hendak memulai homilinya, Romo Kris (panggilan akrab Romo Materius Kristiyanto) mengajak umat untuk bertepuk tangan. Satu kali, tanda cinta akan Tuhan, dua kali cinta ayah dan tiga kali cinta ibu. Setelah itu, romo memanggil seorang anak untuk maju ke depan. Beliau kemudian bertanya kepada anak itu, ”sebenarnya yang istimewa dari perayaan Paskah itu apa?” Dengan lugas, Rafael (nama anak itu) menjawab, ”Yesus yang bangkit.” Benar, Paskah adalah hari kebangkitan Tuhan. Dan biasanya, untuk menandakan Yesus yang sudah bangkit selalu ada Lilin Paskah. Selain itu, ada satu keunikan lagi dalam perayaan Paskah yaitu diadakannya pembaharuan janji babtis.

Romo Kris mengucapkan terima kasih kepada para orang tua yang telah memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk duduk di depan. Karena dengan begitu, mereka dapat berkontemplasi/mengalami pengalaman iman secara langsung dan perasaan yang berkesan karena bersentuhan dengan lilin paskah, visualisasi dll. Harapannya dengan pengalaman seperti ini, memberi peluang semakin tumbuh berkembangnya iman dalam diri anak.

Usai misa, seperti yang sudah direncanakan, akan diadakan petualangan untuk mencari telur-telur Paskah. Mencari, tidak hanya sekedar mengumpulkan telur sebanyak-banyaknya tetapi yang paling penting adalah melaksanakan tugas yang akan diberikan. Namun, kegiatan ini tidak dapat dilaksanakan. Semua berawal ketika pintu gereja sebelah samping yang tertutup, langsung dibuka begitu misa usai, padahal petugas di pos-pos petualangan belum siap. Bapak-ibu dan anak-anak, segera menghambur, beramai-ramai, dan saling berebut, mencari telur-telur yang disembunyikan. Ketika situasi semakin tidak terkendali, koordinator acara berusaha menenangkan mereka dan menghimbau agar mereka bisa tertib dan mau bekerjasama dengan panitia. Namun semuanya sudah terlambat. Akhirnya, untuk menghindari situasi yang semakin kacau, panitia kemudian membagikan bingkisan Paskah yang memang sudah ditunggu-tunggu.

Misa Minggu ke-5

Minggu, 29 Maret, Tim Kerja Pendampingan Iman Anak (PIA) dan Pendampingan Iman Remaja (PIR), mengadakan misa olahan Minggu ke-5 pada pukul 08.45. Misa ini merupakan salah satu program kerja yang sudah direncanakan oleh Tim Kerja PIA.

Meski sudah diumumkan oleh para pendamping PIA dan PIR dan sudah disediakan tempat duduk di deretan depan khusus untuk anak-anak, ternyata hanya beberapa anak saja yang berani melakukannya. Tentu hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi panitia karena ternyata kebanyakan anak-anak takut berpisah dengan orangtuanya. Padahal harapannya dengan duduk di depan, anak-anak dapat mengikuti perayaan ekaristi dari awal hingga akhir dengan lebih kusyuk dan mendalam.

Menurut Romo Kendar dan Romo Sugi, kesan misa olahan khas anak-anak belum nampak karena masih banyak anak yang bermain di luar gereja. Para orang tua pun juga belum secara aktif melibatkan anak dalam perayaan ekaristi. Lebih lanjut Romo Kendar memberikan beberapa alternatif sebagai langkah perbaikan yang nantinya bisa dilakukan untuk misa olahan minggu ke-5 selanjutnya.

Minggu, 01 Maret 2009

Minggu Prapaskah I

Minggu ini adalah Minggu Prapaskah I. Kak Ninik cs yang kali ini mendapat giliran mendampingi kegiatan PIA di gereja memberikan penjelasan tentang artinya memasuki Masa Prapaskah. Bagaimana harus melaksanakan Puasa dan Pantang. Selanjutnya dibagikan lampion kepada anak-anak untuk digunakan sebagai kotak APP. Diharapkan anak-anak dapat menyisihkan sebagian uang jajannya untuk dimasukkan dalam lampion ini sebagai wujud kegiatan Puasa dan Pantang.

Minggu ini anak-anak juga mulai berlatih nyanyi untuk persiapan tugas koor Misa Minggu ke-5 pada tgl. 29 Maret nanti. Tugas ini akan dilaksanakan bersama dengan para pendamping PIR Katedral.

Minggu, 08 Februari 2009

Pohsarang, Kami Datang...


Sabtu-Minggu, 7-8 Pebruari, kami mengadakan Wisata Rohani ke Gua Maria Pohsarang, Kediri. Rombongan kami berjumlah 42 orang terdiri dari Pendamping PIA, Pendamping PIR dan rekan-rekan lain yang pernah terlibat dalam berbagai kegiatan PIA dan PIR di tahun 2008 lalu. Wisata Rohani ini merupakan wujud syukur atas keberhasilan kami (para pendamping PIA dan PIR) dalam mengisi dan melalui tahun 2008 sebagai Tahun Anak dan Remaja dengan berbagai kegiatannya.

Awal keberangkatan kami ditandai dengan hujan yang begitu lebat. Setelah berdoa bersama dan mendapat berkat peneguhan dari Romo Kendar (terimakasih Romo sudah meluangkan waktu untuk kami…) dan menyempatkan diri berfoto bersama dengan beliau, kami segera berangkat menuju tempat tujuan. Pohsarang, kami datang…, begitu mungkin jerit hati kami malam itu.

Perjalanan di tengah gulita malam ternyata tidak begitu kami rasakan. Pukul 04.15 kami tiba di Pohsarang. Setelah beristirahat sejenak di pelataran Gereja Pohsarang, tepat pukul 05.30 kami mengadakan Jalan Salib. Jalan Salib dipimpin oleh Pak Giri dengan Mbak Dina sebagai pemimpin lagu dan kami secara bergantian membacakan kutipan-kutipan Kitab Suci pada perhentian-perhentian yang kami lalui. Suasana pagi dengan udara yang begitu segar, di tengah hamparan pohon-pohon yang menghijau ditingkah cericit burung yang begitu gembira menyambut pagi juga suara gemericik air, mengiringi perjalanan Jalan Salib kami. Semua tampak kusyuk. Semua begitu khitmad mengikuti perhentian demi perhentian yang tersaji begitu hidup karena berupa patung-patung seukuran manusia yang menggambarkan adegan-adegan jalan salib.

Setelah mandi, makan pagi dan berfoto bersama di depan Gereja Pohsarang dengan suasana hati yang begitu gembira, kami melanjutkan perjalanan ke Telaga Sarangan. Di tempat ini kami menikmati suasana telaga (danau) dengan berbagai aktivitas. Ada yang menyewa speedboat. Ada yang menyewa kuda untuk mengelilingi telaga. Namun tak sedikit pula dari kami yang hanya berjalan-jalan sambil memilih oleh-oleh yang akan kami bawa pulang. Setelah berpuas diri di tempat ini, pukul 17.00 kami melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang.

Proficiat untuk rekan-rekan yang telah mempersiapkan kegiatan Wisata Rohani ini. Terima kasih pula untuk semua saja yang telah menyempatkan diri mengikutinya. Semoga apa yang sudah kita lalui dan rasakan bersama sungguh memberikan kesegaran baru untuk pelayanan kita selanjutnya. Sekali lagi terima kasih. Berkah Dalem.

Minggu, 01 Februari 2009

Not For Less


Seorang wanita muda bernama Wei datang ke sebuah desa terpencil. Ia tergiur iming-iming uang 50 dollar dari pak Kepala Desa untuk menggantikan tugas pak Kao, mengajar anak-anak desa yang miskin. Sebelum pergi, pak Kao berpesan kepada Wei agar menjaga murid-muridnya jangan sampai berkurang lagi jumlahnya.

Wei tidak memiliki kemampuan apa-apa. Untuk menyanyi saja ia sering lupa. Setiap hari ia hanya menulis di papan tulis dan menyuruh murid-muridnya untuk menyalin pelajaran seperti yang sudah ditulisnya di papan tulis. Setelah itu ia keluar kelas dan tidak mempedulikan lagi murid-muridnya. Hingga suatu saat, ketika salah seorang muridnya (yang paling bandel) tidak masuk kelas karena harus pergi ke kota untuk bekerja, Wei tergerak hatinya. Ia teringat pesan pak Kao. Dengan segala upaya ia berusaha mencari uang untuk menyusul muridnya ke kota dan membawanya pulang kembali. Bersama murid-murid yang lain, Wei menjadi buruh angkut batu bata. Namun karena uang yang didapat hanya sedikit, Wei akhirnya nekat pergi ke kota dengan berjalan kaki.

Sampai di kota Wei sempat kebingungan mencari alamat muridnya tersebut. Ketika alamat itu ditemukan, kesulitan kembali menghadang Wei. Ternyata murid tersebut, telah menghilang pada hari pertama kedatangannya ke kota. Dengan segala upaya Wei berusaha mencari sang murid. Meminta tolong orang untuk mengumumkan di radio, menulis berlembar-lembar selebaran hingga pagi buta hingga kenekatannya untuk menemui seorang direktur tv. Semua dilakukannya dengan penuh kesungguhan dan keteguhan. Akhirnya sang direktur tergerak hatinya dan menjadikan Wei bintang tamu dalam acara ‘Pelangi Hidup’ untuk menceritakan keadaan pendidikan di desa. Semula Wei tidak bisa berkata-kata. Ia gugup. Dengan berlinang air mata, ia menceritakan semuanya sambil menitipkan pesan kepada sang murid untuk mau kembali ke desa. Dan kemudian semuanya berakhir bahagia. Guru Wei kembali menemukan muridnya yang hilang. Mereka bisa kembali ke desa dengan diiringi kru tv dan berbagai bantuan untuk sekolah di desa.

Demikian cerita film ‘Not For Less’ yang siang itu (1 Pebruari) ditonton oleh para pendamping PIA di pastoran lantai atas. Meski yang hadir hanya sedikit, tetapi tidak mengurangi kegembiraan dan kekompakan para pendamping yang hadir. Mereka begitu menikmati dan beberapa bahkan ada yang terharu menyaksikan perjuangan guru Wei.

Dari cerita film ini ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan bagi para pendamping khususnya yang berkaitan dengan kegiatan Pendampingan Iman Anak. Catatan-catatan tersebut antara lain:
• Bekerja dengan penuh kesungguhan, jujur dan bertanggung jawab.
• Mencintai dengan sungguh-sungguh.
• Berusaha sekuat tenaga walau apapun rintangan yang dihadapi

Nah, untuk rekan-rekan pendamping, selamat bekerja di ladang Tuhan. Mari kita dampingi adik-adik kita dengan penuh kesungguhan dan rasa tanggung jawab. Mari kita bimbing mereka dalam kehangatan kasih. Dan mari kita hadapi bersama segala rintangan yang menghalangi langkah kita untuk bersekutu denganNya. Percayalah, walau kita tidak mempunyai bekal apa-apa, pasti Tuhan yang akan memampukan kita untuk saling memberi berkat dalam mewartakan ajaranNya.

Jumat, 30 Januari 2009

Rekoleksi dan Perekrutan Pendamping PIA


Seru, lucu, dan banyak aktifitas. Begitulah gambaran kegiatan Rekoleksi dan Perekrutan Pendamping PIA yang dilaksanakan pada tanggal 25-26 Januari di area Gua Maria Kerep Ambarawa. Meski hanya diikuti oleh 18 peserta dari 8 lingkungan dan 6 orang pendamping PIA Paroki, namun seluruh acara dapat berlangsung dengan baik.

Diawali dengan animasi sebagai pemanasan yang membuat peserta bergembira. Kemudian dilanjutkan perkenalan dalam kelompok. Ada kelompok Kepompong, Pia-Pia, Keluarga Cemara dan Lumanti (Lucu, Manis tak Tertandingi). Masing-masing kelompok berusaha memperkenalkan anggota kelompoknya dengan gaya-gaya dan penampilan yang menarik, yang kadang membuat kelompok lain terpingkal-pingkal.

Setelah makan malam, acara memasuki sesi pertama yang mengupas seluk-beluk mengenai PIA. Apa tugas-tugasnya. Kedudukannya dalam kepengurusan Dewan Paroki. Keberadaan di tingkat Vikep yang terbagi dalam rayon-rayon dan spiritualitas PIA. Dimana seorang pendamping yang memberikan pelayanan kepada anak hendaknya menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mewartakan kabar sukacita Tuhan. Lalu, siapakah yang harus menjadi pendamping itu? Kita semua yang merasa terpanggil. Maukah kita menjawab panggilan itu dengan mengatakan, “INI AKU, UTUSLAH AKU”? Tidak mudah memang karena dibutuhkan kesadaran sebagai tanggapan atas cinta kasih Tuhan. Lalu, apa yang dilakukan oleh pendamping selaku guru bagi anak? Pertama adalah mengajar (Ul 11:19) lalu memberitakan Injil (Mat 78:6), berdoa bagi anak didik (Ef 6:23), belajar (1Tim 3:6), menggembalakan (1Ptr 5:2), menjadi teladan (1Tim 3:12) dan menjadi pelindung (Why 3:9). Setiap pendamping diharapkan menjadi bijaksana ketika menghadapi anak-anak yang unik. Mau menjadi seperti anak kecil yang polos dan apa adanya serta konsisten bahwa apa yang dikatakan itulah yang kemudian dilakukan. Satu hal yang harus disadari bahwa Tuhan tidak menunggu kita sempurna tetapi bagaimana kesiapan kita dalam memberi pelayanan.

Kegiatan malam itu diakhiri dengan renungan malam. Dalam balutan cahaya lilin yang menerangi kegelapan, semua tampak kusyuk di dalam lantunan doa. Setelah itu masing-masing beristirahat.

Pagi hari. Udara begitu sejuk. Usai mandi dan makan pagi kami kembali berkumpul di ruangan. Setelah renungan pagi kami memasuki sesi kedua yaitu aktivitas, gerak lagu dan permainan. Untuk menyegarkan suasana, kami mencari tempat lain. Jika sebelumnya berada dalam ruangan, kini kami berkumpul dalam ruang terbuka dengan aneka pemandangan dan suasana yang segar. Dalam aktivitas, kami bersama-sama membuat gereja kecil dari kertas origami dan burung merpati dari alas roti dan stick es cream. Semua tampak tekun melakukan aktivitas ini. Ada yang melipat dengan hati-hati, memperhatikan Kak Ningsih yang memberi pengarahan, ada yang menggunting juga ada yang nampak bengong, tak tahu apa yang dilakukan.

Suasana berubah menjadi cukup ramai ketika tiba pada acara permainan. Masing-masing kembali pada kelompok dan berusaha berkompetisi dengan ‘fair’. Ada permainan YUYU KANGKANG dan BAHTERA NABI NUH. Dalam masing-masing permainan setiap orang dituntut untuk saling mengembangkan kerjasama, peka terhadap situasi, sabar dan tidak mudah menyerah dan senantiasa bersyukur ketika rintangan/halangan dilewati (bisa diselesaikan).

Setelah itu acara tiba pada sesi ketiga yaitu pendalaman materi dan praktek pengajaran. Di sini kami dibekali dengan masalah psikologi anak yang mengupas tentang pertumbuhan dan perkembangan anak dan hubungannya dengan langkah pendampingan yang akan diambil. Pada sesi ini kami juga dikuatkan oleh kehadiran Romo Herman. Beliau mengajak kami untuk menyadari bahwa Tuhan sudah begitu mengasihi kita. Ia sudah memberikan begitu banyak berkat berlimpah berupa sukacita, kebersamaan dan kegembiraan. Dan kita dipanggil untuk membagikan berkat itu kepada orang lain terutama untuk anak-anak. Tak perlu berkecil hati jika kita merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa tapi percayalah bahwa Tuhan akan memampukan kita. Sebab hidup adalah berkat, panggilan dan perutusan.

Acara berlanjut pada praktek pengajaran yang divisualisasikan oleh masing-masing kelompok. Saat satu kelompok mengajar, kelompok yang lain ‘mengojlok’ dengan menjadi anak-anak yang bandel. Di sini muncul kelucuan-kelucuan yang membuat kami terpingkal-pingkal hingga sakit perut karenanya.

Setelah masing-masing kelompok memberikan penampilan terakhir untuk Romo Herman, pemberian kenang-kenangan untuk Romo Herman oleh Kak Any selaku Koordinator PIA Paroki dan berfoto bersama, seluruh acara Rekoleksi dan Perekrutan Pendamping PIA berakhir. Proficiat kepada seluruh panitia. Terima kasih untuk seluruh peserta yang telah meluangkan waktu mengikuti acara ini. Terima kasih untuk Romo Herman. Semoga apa yang sudah dirasakan, diterima, dinikmati dan digeluti selama kegiatan ini semakin menambah wawasan kami dalam kegiatan pendampingan iman anak baik di lingkungan, wilayah maupun paroki. Berkat Tuhan melimpah.

Minggu, 04 Januari 2009

Penyusunan Kurikulum PIA 2009


Melakukan sesuatu yang baru seringkali bukanlah perkara yang mudah bahkan cenderung terasa sangat sulit. Demikian juga yang kami rasakan saat berusaha menyusun kurikulum untuk Pendampingan Iman Anak tahun 2009. Hampir satu setengah jam kami saling terlibat adu argumentasi, memberikan ide, masukan, ataupun saran untuk merancang kurikulum yang terbaik. Namun kami malah tetap berputar-putar di tempat. Ternyata untuk melewati satu minggu saja terasa begitu sulit. Apalagi kurikulum yang harus kami selesaikan adalah untuk satu tahun pendampingan. Akhirnya, kami sepakat untuk membagi diri dalam kelompok. Ada delapan orang di antara kami yang terbagi menjadi 4 kelompok yang masing-masing diserahi 3 bulan (dipilih secara acak) untuk dirancang dan dibuatkan kurikulumnya.

Hampir 3 jam kami terlibat dalam diskusi seru dalam kelompok. Membaca kutipan ayat Kitab Suci, mencari tema dan menetapkan tujuan, membuat doa dan mencari lagu-lagu pendukung, hingga menetapkan aktivitas-aktivitas yang harus dilaksanakan. Semuanya kami bicarakan dalam suasana ‘sersan’, serius tetapi santai. Akhirnya, satu demi satu kelompok telah menyelesaikan tugasnya. Dan karena telah mendekati tengah malam (beberapa diantara kami sudah ngantuk berat) kami sepakat untuk beristirahat.

Pagi harinya, setelah mandi (dengan air yang begitu dingin), kami mengawali kegiatan dengan doa bersama. Setelah itu kami mencari pengisi perut untuk menyegarkan jasmani kami. Selesai makan pagi, kami segera bergegas mencari tempat untuk kembali berkumpul bersama. Mendiskusikan hasil-hasil pembicaraan kami semalam. Masing-masing kelompok kemudian melaporkan rancangan mereka untuk kurikulum PIA sesuai bulan yang sudah ditetapkan. Satu demi satu secara urut dan jelas. Sementara kelompok yang menjadi pendengar memberikan ide-ide dan masukan untuk penyempurnaan. Ternyata, atas bimbingan Tuhan dan perkenanNya, hal yang awalnya tampak begitu sulit, kini menjadi lancar bagi kami. Memang, masih banyak kekurangan di sana-sini, namun kami berjanji untuk kembali bertemu guna semakin melengkapi dan menyempurnakan kurikulum yang kami susun pada kesempatan yang lain.

Sebelum meninggalkan Gua Maria Kerep Ambarawa untuk kembali ke Semarang, kami menyempatkan diri foto-foto bersama untuk kenang-kenangan. Makam Yesus, Danau Galilea dan Perjamuan Kana menjadi latar favorit bagi kami.

Akhirnya, terima kasih atas dukungan rekan-rekan. Terima kasih karena telah berkenan meluangkan waktu, pikiran dan tenaga. Semoga apa yang telah kita hasilkan ini dapat kita laksanakan untuk semakin memperkembangan PIA di Paroki kita. Berkat Tuhan melimpah. Amin.

Jumat, 02 Januari 2009

Bersih-Bersih Ruang PIA


Awal Tahun Baru. Semangat baru dan niat yang baru. Demikian semboyan yang diusung oleh beberapa rekan pendamping PIA pada kegiatan malam ini. Mereka bersama-sama bekerja bakti membersihkan ruangan PIA yang tampak bagai kapal pecah. Di sana-sini berserakan kertas-kertas pembungkus kado sisa perayaan natal kemarin. Belum lagi beberapa snack dan permen yang masih tertinggal. Sementara di pojok yang lain, masih banyak properti pendukung kegiatan PIA yang menunggu untuk disentuh dan dibersihkan.

Merapikan sana-sini. Menata berbagai barang dan memasukkannya ke dalam kardus. Menyimpan buku-buku dan peralatan tulis lainnya ke dalam lemari terpisah. Membuang barang-barang yang sudah rusak dan tidak terpakai. Melipat tikar. Menyapu lantai kemudian mengepel hingga bersih. Semuanya dilaksanakan dengan penuh keceriaan dan semangat kerjasama yang begitu tinggi.

Nah, kini ruangan PIA sudah tertata rapi dan terlihat bersih. Saatnya kita memulai lagi kegiatan Pendampingan Iman Anak dengan semangat baru, niat baru dan harapan baru untuk selalu memberikan yang terbaik dan sepenuh hati bagi pelayanan kepada anak-anak. Berkat Tuhan Melimpah.

Kamis, 01 Januari 2009

Rencana Kegiatan Tahun 2009

* 3 - 4 Januari Penyusunan Kurikulum Sekolah Minggu di Gua Maria Kerep Ambarawa

* 25 - 26 Januari Rekoleksi Perekrutan Pendamping PIA di Gua Maria Kerep Ambarawa

* tiap 6 bulan sekali Anjangsana PIA antar wilayah se-Paroki

* 12 April Perayaan Paskah Keluarga

* Mei Kunjungan Kasih ke Panti Jompo Rindang Asih Ungaran

* 25 Desember Perayaan Natal Keluarga

Rabu, 31 Desember 2008

Natal Keluarga 2008


Sebuah TV berukuran super besar diusung ke depan altar. Kemudian seorang narator mulai menceritakan sebuah kisah. Maria mendapat kabar dari malaikat. Kegalauan Yusuf mengetahui Maria, tunangannya, yang ternyata sudah mengandung. Maria dan Yusuf mengikuti cacah jiwa. Maria dan Yusuf kesulitan mencari penginapan untuk Maria yang hendak melahirkan. Kelahiran Yesus di kandang domba. Gembala-gembala di padang mendapat kabar gembira dari malaikat yang memberitakan kelahiran Yesus. Kedatangan para gembala di hadapan bayi Yesus. Hingga kedatangan tiga raja yang membawa persembahan untuk bayi Yesus. Semuanya diceritakan secara runtut dan divisualisasikan oleh para pendamping PIA secara ‘apik’ dan menarik pada Misa Natal Keluarga yang diselenggarakan 25 Desember 2008.

Dalam homilinya, Romo Herman mencoba menawarkan sebuah pertanyaan, “Siapa yang mau menemani Yesus?” Serentak anak-anak yang hadir mengacungkan tangan. “Lho, kok hanya anak-anak, bapak-bapak dan ibunya mana?” lanjut Romo. Kelahiran Yesus membawa damai untuk semua orang. Maka hendaknya kita juga mau membagi damai itu untuk orang-orang yang ada di sekitar kita. Dan di akhir homilinya, Romo mengajak umat yang hadir untuk saling memberi salam dan membagi berkat bagi orang lain yang duduk di samping kiri, kanan dan belakang.

Setelah Misa selesai, perayaan natal dilanjutkan di gedung Sukasari. Di tempat ini, anak-anak diajak untuk bersama-sama menghias pohon natal yang terbuat dari sikat kamar mandi sambil ditemani alunan lagu dari kakak-kakak pendamping dan juga Santa Claus. Dan di akhir acara, anak-anak didampingi orangtua berbaris dengan rapi untuk menerima bingkisan natal.

Proficiat untuk kakak-kakak pendamping yang sudah mempersiapkan acara dengan baik. Semoga Natal tahun ini sungguh memberi berkat dan menjadi sumber kekuatan untuk semakin meningkatkan pelayanan di tahun yang akan datang.

Perayaan Ekaristi Syukur 80 th Gereja Katedral dan Pesta Umat

Perayaan Ekaristi Syukur 80 th Gereja Katedral yang dilaksanakan pada hari Minggu, 12 Oktober pk. 08.00 terlihat semarak dan meriah. Perayaan Ekaristi dipimpin secara konselebran oleh Vikjen KAS, Romo Riana Prapdi dan seluruh romo komunitas pastoran yaitu Romo Sukendar, Romo Sugiyana, Romo Herman, Romo Kristiyanto dan Romo Edy.

Perayaan Ekaristi diawali dengan visualisasi sejarah paroki yang dibawakan secara ‘apik’ oleh adik-adik PIA Katedral. Mereka memperagakan perjalanan paroki ini hingga usia yang ke-80. Ada yang berperan sebagai romo, rakyat jelata, pemborong bangunan, arsitek, tentara Jepang, petugas P3K, penari jawa, penari betawi, penari Jepang dan masih banyak lagi. Meski berlangsung hampir satu jam, umat sangat antusias menyaksikan visualisasi ini terbukti dengan tepuk tangan yang sering kali terdengar. Terlebih ketika ada beberapa adegan lucu yang secara tidak sengaja terjadi, misal: ketika konde salah satu penari terjatuh atau tentara Jepang yang jatuh ‘beneran’ dari atas panggung.

Sebelum berkat penutup diadakan acara potong tumpeng oleh Romo Riana Prapdi yang diberikan kepada wakil Dewan Paroki, Bp. GM. Siranto kemudian Romo Sukendar diberikan kepada Ketua Panitia Ulang Tahun Gereja, Sdr. Kokok dan Romo Sugiyana yang diberikan kepada wakil umat, Bp. Djemono.

Mengawali pesta umat diadakan acara pelepasan 80 burung pipit oleh para romo. Hal ini untuk menandakan usia 80 th yang kini telah ditapaki oleh gereja ini. Setelah itu umat segera menyerbu ‘nasi ayam’ yang sudah disediakan. Disamping itu juga telah dipersiapkan beragam acara oleh panitia untuk mengiringi pesta umat yaitu: solo organ, tari Panji Semirang, Poco-Poco dari ibu-ibu wilayah, drama dari Kaum Muda Sampangan dan acara bagi-bagi doorprize.

Selamat ulang tahun Gereja Katedral. Selamat menapaki semangat baru untuk semakin berkembang dari, oleh dan untuk seluruh umat. Proficiat kepada seluruh panitia. Semoga usaha yang telah dan sudah kita laksanakan ini sungguh mendewasakan kita dalam iman dan perbuatan. Amin.

Gembira & Bernyanyilah


Itulah tema yang dipakai dalam Lomba Paduan Suara Anak dan Remaja Se-Kevikepan Semarang yang dilaksanakan pada tanggal 21 September di Gereja Katedral. Tema ini ingin mengajak peserta lomba dan penonton untuk bergembira bersama dengan bernyanyi/melantunkan pujian bagi kemuliaan Tuhan.

Lomba dibagi dalam dua kategori yaitu anak dan remaja. Kategori Anak diikuti oleh 8 peserta yaitu: George Choir dari Paroki Materdei, Titi Nada C dari Paroki Katedral, Bosco Voice dari Paroki Karangpanas, St. Yoh. Evangelista dari Paroki Kudus, PIA St. Theresia Bongsari dari Paroki Bongsari, Kuncup Ignatius dari Stasi Krapyak Paroki Bongsari, PIA Sampangan dari wilayah Sampangan Paroki Katedral dan PSMF Junior dari Paroki Banyumanik. Untuk Kategori Remaja diikuti oleh 6 peserta yaitu: St. Yoh. Evangelista dari Paroki Kudus, Kuncup Ignatius dari Stasi Krapyak Paroki Bongsari, PIR St. Theresia Bongsari dari Paroki Bongsari, Vox Liberorum dari Paroki Purwodadi, Gracioso dari Paroki Katedral dan PSMF Junior dari Paroki Banyumanik.

Tepat pukul 11.10 lomba dimulai. Diawali dari peserta Kategori Anak dan kemudian peserta Kategori Remaja. Masing-masing peserta tampak bernyanyi dengan sungguh-sungguh. Menampilkan segala kemampuan olah vokal dan olah gerak untuk memberikan yang terbaik bagi para penonton dan dewan juri.

Pukul 14.30 tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para peserta yaitu pengumuman pemenang lomba. Sebelum mengumumkan pemenang untuk masing-masing kategori, Dewan Juri yang terdiri dari Bp. Agastya Rama Listya, Bp. Wahyu Purnomo, dan Ibu Dra. Margarisje Lucij Elisabeth Makikui, M.Hum, berkenan memberikan kritik dan saran untuk seluruh peserta. Dan yang menjadi pemenang untuk lomba kali ini adalah: Kategori Anak; Bosco Voice sebagai Juara I, Kuncup Ignatius sebagai Juara II, PSMF Junior Juara III dan George Choir sebagai Juara Harapan. Untuk Kategori Remaja: Juara I Kuncup Ignatius, Juara II PIR St. Theresia Bongsari, Juara III St. Yoh. Evangelista, dan Juara Harapan PSMF Junior.

Proficiat kepada para pemenang. Proficiat kepada seluruh panitia. Semoga lomba ini dapat dilaksanakan lagi di tahun mendatang dengan jumlah peserta dan penonton yang lebih banyak. Marilah kita terus bergembira dan melambungkan pujian bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

Ikut Yesus.... Siapa Takut?!

Pagi, 6 Juli 2008, begitu dingin. Jam di tangan menunjukkan pukul 06.30. Kak Ani dan kak Ana yang bertugas sebagai among tamu menyambut peserta misa akbar yang mulai berdatangan. Setiap perwakilan peserta kemudian mengisi daftar hadir dan mengambil buku panduan.

Sambil menunggu waktu dimulainya misa, bu Densia dan bu Sigit yang memandu acara mengajak peserta yang sudah hadir untuk menyanyi gembira. Warna-warni seragam dan atribut yang dikenakan semakin menambah semarak suasana. Selanjutnya ditampilkan pentas seni dari Paroki Kudus, Paroki Tanah Mas, Paroki Gedangan dan Paroki Pati.

Pukul 10.00 misa segera dimulai. Misa yang mengambil tema: “Ikut Yesus... Siapa Takut?!” diikuti oleh 21 paroki dan 4 stasi/gereja filial di wilayah Kevikepan Semarang dengan jumlah peserta kurang lebih 1000 orang (729 anak, 214 pendamping serta para orang tua). Misa dipimpin oleh Romo Julius Sukardi, Pr selaku Vikep Semarang dan Romo G. Tulus Sudarto, Pr selaku moderator PIA Kevikepan. Dalam misa ini, masing-masing paroki turut ambil bagian menjadi petugas. Ada yang bertugas untuk koor lagu pembuka, doa umat, petugas persembahan, koor lagu komuni, pembaca Kitab Suci, pembaca Mazmur dan lain-lain. Untuk Paroki Katedral sendiri mendapat tugas menyanyikan lagu penutup yang berjudul “Laskar Kristus”.

Selain itu ada tampilan visualisasi yang dibawakan oleh PIA Stasi Sampangan. Visualisasi ini menceritakan tentang kepolosan dan kerendahan hati seorang anak kecil yang mampu melepaskan diri dari belenggu kesombongan, egois, kesewenang-wenangan, untuk membantu sesama yang ditinggalkan.

Dalam homilinya yang dibawakan dengan menggunakan wayang dongeng, Romo Tulus mengajak para peserta untuk berkenalan dengan tokoh Ibu Maria, Yesus, Sinchan, Kucing Garong, Tikus dan Buaya. Dengan gaya kocak, lucu namun pasti, Romo Tulus menyampaikan pesan-pesannya. Menurut beliau, kalau kita ingin mengikuti Yesus, ada tiga jenis binatang yang harus dijauhi karena sifat-sifatnya. Pertama adalah Kucing Garong. Kucing Garong melambangkan sifat yang selalu mencari-cari kesempatan untuk mengambil hak orang lain (mencuri). Selain itu Kucing Garong sukanya berkelahi dan tidak mau akur dengan yang lain. Kedua adalah binatang Tikus. Tikus seringkali melambangkan sifat manusia yang doyan korupsi. Korupsi uang dengan menggerogoti apa yang bukan miliknya, korupsi waktu dengan menggunakan waktu secara salah misalnya; waktunya belajar malah dibuat untuk main game atau nonton film, waktu ikut misa malah ngobrol sendiri dengan teman. Ketiga adalah Buaya yang sukanya memangsa makhluk yang lebih lemah. Hal ini melambangkan sikap kesewenang-wenangan terhadap kaum yang lebih lemah. Inilah yang paling dibenci oleh Yesus karena itu hendaknya kita selalu saling mengasihi, saling mencintai dan saling tolong menolong satu dengan yang lain. Di akhir pesannya, Romo mengajak para peserta untuk menghafalkan Matius 11:28-29 yang berbunyi, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.

Misa diakhiri dengan Adorasi Tubuh Kristus. Bapak Prodiakon dengan mengusung sebuah monstrans besar diiringi Romo dan Putra Altar berkeliling di seputar area misa. Peserta pun tampak kusyuk mengikuti prosesi sambil tunduk hormat kepada Sakramen Maha Kudus.

Sebagai penutup keseluruhan acara, Romo Kardi dan Romo Tulus melepaskan burung-burung merpati sebagai tanda perutusan bagi peserta untuk mewartakan Kristus dalam kehidupan masing-masing, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, lingkungan, maupun paroki. Proficiat untuk seluruh peserta. Proficiat untuk paroki-paroki dan stasi yang turut terlibat dalam Misa Akbar ini. Semoga di lain kesempatan acara ini dapat dilaksanakan lagi dengan suasana dan semangat yang baru. Tuhan memberkati.
(anych)

Bibe-Bibe Aye-Aye


Minggu ke-5 di bulan Juni tepatnya tgl. 29 Juni, anak-anak dan remaja kembali bertugas untuk ambil bagian terlibat dalam Perayaan Ekaristi khususnya untuk koor dan doa umat. Lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu yang biasa didengar sehingga anak-anak dan remaja hanya beberapa kali latihan saja sudah bisa menguasai.

Dalam homilinya, Romo Herman berpesan agar kita dapat berlaku seperti halnya Petrus yang selalu mengakui Yesus dalam kehidupannya. Meski di dalam suka dan duka, senang maupun sengsara, kita harus selalu mencintai Yesus, karena berkat pengorbanan-Nya kita sudah terbebas dari dosa. Romo pun mengajak umat untuk bernyanyi, demikian lagunya:

Bibe-bibe aye-aye
Biar beda asal Yesus
Tuhan Yesus sangat ingin
Semangat kita menyala
Biar susah dan sengsara
Namun tidak putus asa


Hal yang mengejutkan dan menggelikan adalah pada saat menyanyikan lagu komuni. Meski tidak hapal lagunya tapi pede aje kali… yang penting bibe-bibe aye-aye.

Oh ya, untuk kali ini petugas yang menjadi dirigen ada beberapa orang lho. Ada kak Ningsih, kak Ninik, kak Dina, dik Diva, dik Sari, dik Ina sedangkan untuk doa umat yang bertugas dik Adel dan untuk mazmurnya kak Cyntia. Nah, untuk adik-adik yang lain rajin datang ke sekolah minggu ya, siapa tahu selanjutnya adalah giliranmu. Ayo kita berlomba-lomba memberikan yang terbaik untuk Tuhan Yesus. Kakak tunggu ya...
(anych)

Festival Lagu Anak Ayo Puji Tuhan


Bersama anak dan remaja Ayo Puji Tuhan
Aula SMU Don Bosco menjadi saksi bisu meriahnya festival lagu anak ‘Ayo Puji Tuhan’, Minggu, 18 Mei. Acara tersebut dimulai pukul 10.00 dengan diikuti PIA-PIR dari paroki Ungaran, paroki Karangpanas, paroki Banyumanik, paroki Demak, paroki St. Paulus Miki Salatiga, paroki St Yusup Gedangan, paroki Katedral serta stasi Sampangan. Penampilan mereka sangat bervariasi dan menunjukkan kreativitas dari kelompoknya. Ada yang menggunakan seragam kotak-kotak, seragam kaos PIA paroki, seragam kaos bertema kartun, seragam sekolah TK, dan yang paling unik adalah kreativitas dari PIA-PIR Paroki Katedral yaitu mengangkat tema ‘ubah sampah jadi berkat’. Pakaian seragam sederhana yang terdiri dari kaos hitam ditambah pernak-pernik yang menarik berupa rompi dari koran dengan tempelan ornamen potongan bungkus plastik bekas sebagai pelapis bagian luar serta topi ala pesulap dipakai oleh para cowok berbahan busa tipis dengan hiasan daun sementara para cewek menggunakan topi model noni belanda dengan bahan dasar busa serta hiasan bunga dan pita. Meski dari bahan-bahan bekas namun ternyata mampu diubah sedemikian rupa menjadi sesuatu yang menarik yang dapat dikenakan oleh anak-anak dan remaja.

Masing-masing paroki menyanyikan 2 lagu yang berbeda dari buku Ayo Puji Tuhan. Paroki Katedral mendapat 2 lagu antar bacaan yaitu Lagu Ajarilah Kami dan Lagu SabdaMu Ya Bapa. Beberapa paroki lain menggunakan gerakan ketika bernyanyi, sedangkan dari paroki Katedral tidak menggunakan gerakan namun lagu-lagu tersebut diaransemen ulang oleh Mbak Lenny dengan gaya khas anak-anak.

Pertama kali latihan persiapan festival, para pendamping PIA-PIR sempat merasa ragu untuk mengikuti festival ini karena jadwal persiapan festival tersebut bersamaan dengan ujian sekolah ataupun ujian negara anak-anak SD hingga SMU. Akhirnya, dengan bersusah payah selama 1 minggu penuh sebelum festival diselenggarakan, anak-anak dan para remaja di tengah kesibukan belajar, dengan penuh semangat latihan bersama Mbak Lenny dan Mbak Anas untuk mengikuti festival Ayo Puji Tuhan. Tak hanya anak-anak dan remaja yang sibuk, para pendamping PIA-PIR pun ikut sibuk mempersiapkan kostum serta penampilan dari peserta festival. Setiap malam setelah latihan selama seminggu tersebut, para pendamping ‘lembur’ membuat topi dan rompi. Usaha tersebut terasa ringan karena para pendamping dan anak-anak kompak dalam mempersiapkan keseluruhan festival tersebut.

Sabtu, 17 Mei, merupakan malam terakhir persiapan festival tersebut. Pada latihan terakhir ini suara anak-anak tidak keluar secara maksimal, bahkan masih ada beberapa anak yang lupa liriknya. Namun, dengan semangat dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya anak-anak yang terdiri dari Aning, Winda, Diva, Septin, Agnes, Adel, Lia, Luci, Vinda, Gricia, Nia, Oki, Ari, Ade, Edo, Ipung, Alvin, Henry, Rico, Seno dan Dina.sebagai dirigen, terus berlatih untuk memberikan penampilan yang terbaik.

PIA-PIR Paroki Katedral menjadi Juara Umum Terfavorit
Pagi harinya pukul 07.30, anak-anak sudah berkumpul di Gereja Katedral untuk bersama-sama berangkat ke Don Bosco. Rencana keberangkatan pukul 08.00 menjadi mundur karena terjadi beberapa hal yang tidak diinginkan. Akhirnya, pukul 08.45 kami baru berangkat ke Don Bosco. Setibanya di sana ternyata sudah banyak anak yang hadir. Acara yang terselenggara berkat kerjasama Tim Liturgi Kevikepan Semarang dengan Penerbit Kanisius ini baru dimulai pukul 10.00. Sebelum bernyanyi, para perwakilan peserta festival mengambil nomor undian dan paroki Katedral mendapat undian no 4. Para komentator yang terdiri dari Pak Warno (perwakilan penerbit Kanisius), Ibu Titik (perwakilan Tim Liturgi Kevikepan Semarang) serta Nugrahastu (perwakilan pendamping) memuji setiap penampilan anak-anak dari masing-masing paroki. “Keceriaan, semangat yang menjadi ciri dari anak-anak membuat lagu-lagu liturgi ini menjadi semakin hidup”, ujar ibu titik ketika mengomentari salah satu penampilan peserta festival.

Pukul 12.30, menjadi detik-detik yang menegangkan karena pengumuman pemenang akan segera dimulai. Penilaian selain dari komentator, juga berasal dari Romo Sugiyana selaku Ketua Panitia, dan dari masing-masing paroki. Para pemenangnya adalah: Juara III Favorit dari PIA-PIR Paroki St. Paulus Miki Salatiga (nilai 12 poin), Juara II Favorit dari PIA-PIR Paroki Ungaran (nilai 16 poin), Juara I Favorit dari PIA-PIR Paroki Banyumanik (nilai 24 poin), dan Juara Umum Terfavorit dari PIA-PIR Paroki Katedral (nilai 32 poin). Hasil tersebut cukup membanggakan mengingat perjuangan dari anak-anak dan para remaja serta para pendamping dalam mempersiapkan festival tersebut. “Semoga dengan adanya acara ini mampu menjadi wadah kreativitas anak dan remaja di Kevikepan Semarang serta mampu mengenalkan musik dan lagu-lagu liturgi yang bercirikan anak-anak, sehingga kita semua perlu mendukung dan ambil bagian dalam misa anak untuk menggunakan buku lagu Ayo Puji Tuhan,” kata Romo Sugiyana saat membagikan hadiah bagi para pemenang. Semoga harapan ini berakar pada diri masing-masing anak-anak di Kevikepan Semarang khususnya serta anak-anak di Keuskupan Agung Semarang pada umumnya untuk senantiasa memuji Tuhan.
(yosie)

Pekan Suci 2008


Pekan Suci 2008 menjadi sesuatu yang baru bagi PIA dan PIR. Pada Jumat Agung mereka diberi kesempatan untuk menampilkan visualisasi Jalan Salib ala PIA dan PIR. Meski hanya berlatih beberapa kali dan kerap ‘bolong-bolong’ karena pemain tidak komplit, mereka tetap berusaha menampilkan visualisasi dengan baik. “Ri, nanti kalo pas mukul yang beneran ya,” kata Ade yang berperan sebagai Yesus kepada Ari, temannya yang memerankan tentara Romawi.

Saat visualisasi berlangsung, banyak umat yang merasa tersentuh dengan penampilan PIA dan PIR. Mereka dengan setia mengikuti dari satu perhentian ke perhentian, peristiwa ke peristiwa, dengan tekun dan khidmat. Yesus diadili di hadapan Pilatus. Yesus didera, dicambuk dan dipukuli. Yesus jatuh di bawah salib. Yesus bertemu dengan ibunya. Yesus bertemu dengan wanita-wanita yang menangis. Wajah Yesus diusap oleh Veronika. Yesus ditolong Simon dari Kirine. Yesus dipaku di kayu salib. Yesus wafat di kayu salib. Hingga pemakaman Yesus. Beberapa nampak meneteskan air mata, terharu melihat beratnya beban yang harus ditanggung Yesus.

Dari para pemeran sendiri ternyata menghadapi satu tantangan yang berat saat melakukan visualisasi. Mereka harus berjibaku dengan ‘ulat-ulat’ pohon pinus yang banyak bergelantungan. Tak ayal beberapa pemeran harus menjadi korban. Tubuh mereka gatal-gatal dan ‘bentol-bentol’ tak karuan. Namun ternyata hal itu tidak mengurangi kegembiraan yang mereka rasakan. Kegembiraan karena sudah memberikan yang terbaik untuk umat.

Hari minggunya, 23 Maret 2008, Misa Paskah Keluarga dilaksanakan pukul 08.30. Diawali perarakan putra altar, pemeran visualisasi, prodiakon, lektor serta Romo Herman didampingi Frater D. Sukristiono. Sesampai di pintu utama gereja dinyalakan sebatang lilin paskah besar, yang kemudian dibawa memasuki gereja dan diletakkan di altar.

Visualisasi Paskah kali ini tidak menceritakan kisah sengsara Yesus hingga wafat dan kebangkitannya melainkan cerita tentang upaya pelestarian alam sesuai tema Paskah 2008. Ada yang memerankan pohon dan bunga-bunga. Ada juga yang berperan sebagai monyet. Sementara beberapa yang lain memerankan para penebang pohon.

Setelah Misa di gereja selesai, perayaan Paskah dilanjutkan di aula SMP Domenico Savio. Inti perayaan adalah bersama-sama menghias telur paskah yang nantinya akan ditukar satu dengan yang lain. Dengan tidak sabar, anak-anak yang hadir segera berebut telur dan bahan-bahan hiasan. Mereka ingin cepat-cepat menghias telur dan menikmati hasilnya.

Tak terasa hari sudah beranjak siang. Tanpa membuang waktu, panitia segera menutup acara Perayaan Paskah. Setelah doa penutup oleh Romo Herman, acara ditutup dengan pembagian bingkisan dan telur paskah untuk anak-anak.

Selasa, 30 Desember 2008

Rekoleksi Pendamping PIA dan PIR


Mari kita kerjasama, kerjasama, kerjasama
Mari kita kerjasama senang di hati....


Nyanyian di atas dilantunkan dengan penuh semangat oleh para pendamping PIA dan PIR mengawali Rekoleksi Pendamping PIA dan PIR Paroki Katedral Semarang yang diadakan pada tanggal 26-27 Januari di Jl. Merapi 20. Mereka bernyanyi sambil bergandengan tangan, saling berebut mencari teman untuk diajak bekerjasama dan bergembira.

Rekoleksi mengambil tema “Pakailah Aku Sebagai Alatmu Untuk Bekerja di Ladang-Mu” dan diadakan sebagai kegiatan untuk mengawali Tahun Anak dan Remaja. Tujuannya selain untuk menghidupkan kembali kegiatan PIA dan PIR di tiap lingkungan juga untuk kaderisasi pendamping PIA dan PIR.

Mengawali session I, Pak Partugi mengajak para pendamping yang hadir untuk saling tukar pengalaman tentang pendampingan PIA dan PIR di lingkungan atau wilayah masing-masing mengenai hambatan, kesulitan dan tantangan yang dihadapi. Dari wilayah MATIUS dikemukakan bahwa kegiatan PIA sudah mulai dirintis oleh Kaum Muda tetapi seringkali masih kesulitan dalam hal bahan dan bentuk kegiatan apa yang akan dilakukan. Di wilayah MARKUS, PIR yang datang sedikit meskipun sudah menyebar undangan. Untuk kegiatan PIA ada, dengan para pendamping yang masih baru, yang hanya bermodal ‘nekat’. Di wilayah LUKAS karena PIR hanya sedikit, untuk pertemuan digabung dengan wilayah MATIUS dan YOHANES. Untuk PIA di wilayah tidak ada tetapi hanya ada di lingkungan Pekunden Utara dan Bedagan. Di wilayah YOHANES, kegiatan PIA yang cukup aktif ada di lingkungan Ngaglik dan rencananya mulai bulan Pebruari, PIA juga akan mulai dirintis kembali di lingkungan Lempongsari. Untuk wilayah MARIA FATIMA, kegiatan PIA dan PIR berjalan dengan baik. Satu hal yang sedikit beda dengan PIR di wilayah ini adalah namanya yang khusus yaitu REMA atau Remaja Maria Fatima.

Dalam Tahun Anak dan Remaja ini tema yang diangkat adalah “Melibatkan Anak dan Remaja untuk pengembangan Umat”. Satu pertanyaan yang kemudian timbul: apakah anak-anak dan remaja saat ini sungguh-sungguh sudah terlibat dalam pengembangan umat? Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama terutama bagi para pendamping. Di tengah zaman dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat memberi dampak yang besar bagi anak dan remaja. Ada dampak positif tetapi tidak sedikit pula dampak negatifnya. Sebagai pendamping kita harus bisa memberi contoh tentang perilaku dan kegiatan yang positif. Kegiatan doa bersama, ajaran tentang iman dan mengajak anak dan remaja untuk terlibat dalam kegiatan kerohanian di lingkungan menjadi salah satu contohnya.

Setelah uraian panjang lebar dari Pak Partugi, Frater Sukristiono, Romo Herman, Sulis dari PIA wilayah Lukas, Any sebagai koordinator PIA Paroki dan Yosie koordinator PIR Paroki, kegiatan malam itu diakhiri dengan renungan bersama yang dipimpin oleh Frater Gemilau. Dalam renungan ini para pembina diajak untuk memandang sebatang lilin yang menyala dan kemudian merasakan ‘tetesannya’. Sebagai akhir renungan diputarkan slide tentang Yesus yang memberi salib untuk kita. Salib yang harus kita pertahankan dalam suka duka, jatuh bangun perjalanan hidup kita, menanti, Dia yang kembali untuk mengambil salib itu.

Pagi hari, setelah mandi dan makan pagi, para pendamping dibagi menjadi 6 kelompok. Masing-masing 2 kelompok berkompetisi dalam OUTBOUND yang dibagi dalam 3 permainan yaitu SPIDER WEB, BOTOL dan BONEKA SAPI dan JAMAN EDAN. Dalam SPIDER WEB, tiap kelompok diajak untuk semakin mendalami pentingnya berkorban bagi orang lain dan arti kerjasama. BOTOL dan BONEKA SAPI mengajarkan kita untuk sabar, tekun dan sungguh-sungguh berusaha untuk mencapai suatu tujuan. Dalam JAMAN EDAN kita diajak untuk belajar tentang pentingnya saling berkomunikasi secara benar dan percaya kepada orang lain.

Setelah OUTBOUND, keseluruhan acara diakhiri dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Herman. Perayaan Ekaristi dikemas dalam gaya anak dan remaja dengan gerak lagu dari para pendamping di dalam kelompok. Dalam homilinya, Rm. Herman mengajak para pendamping untuk berlaku seperti para nelayan di danau Galilea yang mengikuti ajakan Yesus. Karena kita juga sudah dipanggil oleh Yesus dan secara khusus kita diharapkan juga bisa menjala manusia melalui diri anak-anak dan remaja yang ada di sekeliling kita. Jangan merasa kecil hati, takut atau ragu kalau merasa tidak memiliki kemampuan karena kita bisa mulai dari yang kecil, sederhana dan percayalah bahwa Tuhan sendiri akan menyempurnakannya.

Proficiat untuk para pendamping PIA dan PIR yang ikut dalam rekoleksi. Semoga kita tidak hanya berhenti di sini saja tetapi mau secara aktif dan terus terlibat dalam pendampingan kegiatan PIA dan PIR di lingkungan masing-masing. Semoga berkat Tuhan melimpah untuk kita semua, sekarang dan selamanya. Amin.